Senin, 06 April 2009

RAN

Ada seorang sahabat yang begitu dekat dengan saya. Sahabat lama sejak SMP. ran namanya. Suatu hari ia pernah bercerita pada saya tentang ketidak yakinan dirinya. Ia selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Tak punya pekerjaan tetap, lontang lantung, bingung, punya adik-adik banyak dan orang tua yang tergolong menengah kebawah. Tiap hari shalat di masjid.tapi belum juga ada pencerahan yang datang. Berbekal ijazah SMP ia merasa begitu rendah. Jalannnya selalu menunduk, malu jika saja bertemu dengan teman-teman lamannya. Terkadang ia memilih untuk duduk di rumah dari pada keluar bertemu rekan-rekan lama yang begitu asyik keliling-keliling sore dengan sepeda motor. Berpakaian modis, gaul. Ran hanya bisa meratap di ujung jalan saat orang lain sedang asyik berranda sambil menunggu hidangan sate ayam di restoran di seberang jalan. Sementara ran sedang asyik bersimbah peluh menggerek semen untuk pengecoran sebuah pembangunan ruko.
Saya berusaha untuk meyakinkan ran bahwa kehidupan ini ada skenarionya. Entah ke berapa kali saya menyarankan dirinya untuk tetap optimis dengan hari-harinya.agar memperbanyak senyumnya dari pada kerut keningnya. Suatu kali saya menyarankan kepada ran untuk mencari job yang lain ketimbang kerja serabutan sebagai buruh bangunan. Pagi itu saya suruh ran untuk menjelajah pasar menjari lowongan kerja di toko. Maksudnya agar ia terbiasa dengan kehidupan luar. Ketimbang duduk di rumah menunggu panggilan borongan. Berkali pula saya sarankan agar mengkedepankan ilmu dan pengalaman dari pada mencari uang. Di pasar ia bisa belajar banyak.
Sorenya ia kembali sms. Bahwa seharian ia berkeliling tak ada lowongan. Saya pun sempat mngontak beberapa teman yang bekerja di pasar tersebut. Memang belum ada lowongan. Ran kembali terduduk, semangatnya kembali pudar. Saya sarankan untuk kembali semangat esok, tapi ia hanya diam kaku dan pesimis. Suatu kali saya mencoba tawarkan sebuah usaha pada ran, tapi ran terlanjur pesimis. Ia selalu meratap bahwa kehidupan ini amat tidak adil padanya.
Ran adalah sekelumit catatan kecil gambaran orang-orang di sekitar kita. Tak mudah membangun keyakinan kita akan kehidupan ini.Namun sebenarnya hal tersebut adalah sesuatu yang sederhana. Kenapa saya katakan sederhana, yang kita butuhkan adalah keyakinan kita akan Allah yag mengatur kehidupan ini. ia yang menjamin semuanya. Dan kemudian membangun ketaqwaan kita padanya. Sehingga tak perlu untuk berputus asa juga melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Allah.
Mudah untuk mengatakannya namun sulit pada prakteknya. Ada satu hal yang membuat saya kadang geram dengan ran, ia selalu menolak ukurkan keberhasilan itu dari nilai matematis kehidupan di dunia. Ran ingin punya hanphone yang ranggih, ia ingin terlihat seperti teman-teman yang di rasakannya sebagai orang yang menikmati kehidupan. Jalan-jalan dengan mobil mewah, makan di kafe dan kehidupan glamour lainnya. Sementara ia hanya kuli bangunan yang senantiasa menunduk melihat kondisi tersebut.
Ia selalu bertanya pada saya, “kenapa saya yang selalu shalat berjamaah di masjid belum mendapat pencerahan seperti orang-orang itu? Padahal mereka itu banyak yang tidak shalat? Saya ini kurang apa?” (dalam hati saya ingin berkata bahwa ia kurang sabar dan yakin, serta kurang bersyukur) tapi saya berusaha untuk meyakinkannya bahwa butuh kesabaran. Dan Allah punya renrana untuk dirinya. Tapi ran tak mau terima ia terus mengeluh.
Suatu kali ran di ajak sepupu saya untuk bekerja denganya, sebersit harapan ada dalam benak saya. Mudah-mudahan ini jalan bagi ran. Ia di ajari menjahit dan meyablon, dan ini tepat apa yang saya sampaikan dahulu ini yang ia butuhkan. Selang sebulan saya menelponnya, saya terkejut. Yang keluar dari ucapan ran, ia tak merasakan kenyamanan, ia semakin merasa terpojok dan terjerumus dalam kebodohanya kata-kata yang keluar adalah “saya ini bodoh, Cuma tamat SMP, IQ saya ini jongkok…….” Saya pun mencoba mencari tahu, ternyata ran tak terlalu baik untuk menyablon dan menjahit. Ia sering lemah semangat dan sering sekali melakukan kesalahan. Bahkan sepupu saya bilang ia sudah berupaya untuk menahan marahnya saat ran berbuat kesalahan karena kelalaiannya. Namun ia tak bisa untuk bersabar terus, ran tak berubah. Ia sering termenung. Terkadang saya sering menyuruhnya untuk tetap bersabar dengan keadaannya serta menghilangkan segala keluh, karena itu sumber segala kelemahannya. Dan juga saya sarankan untuk istiqomah menjaga semangat, yaitu sering-seringlah untuk bertakbir dalam hatinya jika ia lemah semangat. Sehari-dua hari semangatnya masih terjaga, empat hari ia menelephon saya, ia kembali lemah dan tak yakin
Ran selalu bilang pada saya ia malu saat di tanya orang tentang sekolahnya. Dan ia berniat untuk mengambil jalan pintas yaitu ijazah SMA yang dapat di beli. Saya berusaha meyakinkannya bahwa banyak orang yang tidak sekolah berhasil. Tapi ran masih yakin bahwa ia menjadi tidak semangat karena ia selalu terfikik tentang ijazahnya yang hanya SMP. Entah dari mana nantinya uang ijazah itu akan ia dapatkan
Saya pun kadang habis kata bagaimana menjawab masalah ran ini, satu hal yang perlu kita petik bahwa ran tak akan pernah bisa bangkit jika tolak ukur keberhasilan di nilai dengan hitungan material dunia ini, dan ia akan terus terpuruk jika tak merubah pola pikirannya.. sama halnya juga dengan kita, akan menjadi orang paling rugi. siapakah orang yang puas dengan kehidupan dunia??.

Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(QS.al-an’am :32)

.


Untuk sahabatku ran, semoga Allah memberikan jalan keluar……..

Rabu, 25 Maret 2009

Saatnya tebar pesona……

Bebebrapa hari ini suasana kota amat meriah, hampir tiap hari baik di media masa maupun di jalan-jalan kota di ramaikan dengan berbagai aksi-aksi yang tidak biasa. Ada yang berteriak-teriak di pentas, ada yang berkeliling kota hingga membangunkan banyak orang yang tidur siang. Arak-arakan dan iringan kendaraan pemilu bertabur dan menghiasi jalan raya. Seorang tetangga celetuk ”lumayan, dapat kaos dan duit. Untuk jajan anak-anak”
Pesta pemilu amat menarik, hampir setahun sebelumnya media masa telah turut serta meramaikan. Mulai dari prediksi, persaingan, uraian peta kekuatan, survei bahkan sang kandidat yang masih tidur pun di bangunkan dan di tanya tentang kesiapannya. Perang urat syaraf pun sudah biasa. Saling kritik bahkan saling melempar isu bak roti panggan panas yang di lempar-lempar. Tetap yang jadi tumbal utama adalah pemerintah sekarang.
Kemiskinan adalah komoditi siap jual yang paling laris bagi para kandidat, dan orang miskin menjadi objek utamanya. Dan kelaparan, pendidikan, adalah barang penunjangnya. Yang paling menarik jargon bangsa kacung melekat erat sebagai semboyan yang terus di gaungkan. Entah sadar atau tidak yang jelas....kita ini bangsa kacung.
Pada masa-masa ini akan banyak lahir tokoh-tokoh hebat yang mampu menganalisa permasalahan bangsa. Semua akan bicara tentang kesalahan pengurusan bangsa ini mulai dari a hingga a kembali. Semua punya solusi menarik, dan tiap orang yang mendengar seakan di yakinkan lima tahun mendatang negeri ini jadi negeri yang paling maju di dunia, konsep-konsep mutakhir pun di gulirkan. Termasuk para pendukung partai pemerintah. Tak kalah merumuskan dan menawarkan solusi untuk lima tahun kedepan. Tapi entah kenapa sejak limatahun yang lalu saya masih seperti ini.ah...hanya harapan celetuk seorang pak tua.
Tapi yang menarik pada masa-masa kampanye ini saya sarankan kepada anda jangan sampai ketinggalan, kesempatan besar bagi anda. Tolong jangan di lewatkan....masa-masa bertabur hadiah, uang, baju kaos, bahkan ada hal yang lebih lagi, misalnya untuk karang taruna di desa-desa agar dapat di manfaatkan masa tebar pesona ini untuk membeli satu set bola kaki. Toh satu juta bagi sang caleg tak masalah. Tinggal buat proposal.....dan anda akan dapat senyuman serta uang. Bagi anda yang ingin mengadakan pesta penikahan. Biaya pernikahan anda dapat sedikit terbantu jika saja anda mau mencari sponsor dari salah satu partai, ya...tak perlu di cari justru anda akan di tawari. .
Dan anda ingin tahu bagaimana indonesia sesudah pemilu ini, semuanya sudah terlihat sekarang. Tinggal anda membandingkan saja antara pemilu yang lalu dan hasilnya maka pemilu sekarang hasilnya.............
Entah sampai kapan kita seperti ini?? Wallahualam 